Jumat, 22 April 2011

Hubungan Psikologi Pendidikan Anak Sekolah Dasar dengan Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah

Sifat-sifat anak Sekolah Dasar memang penuh teka-teki. Mereka memiliki daya imajinasi yang kuat, proses pemahaman yang cepat dan daya ingat yang kuat. Meskipun demikian, mereka membutuhkan bimbingan untuk menuju proses penalaran yang lebih baik. Dalam hal ini pendidik, yaitu orang tua maupun pendidik di sekolah harus mengetahui keadaan masing-masing individu. Jangan sampai muncul anggapan bahwa sekolah digunakan orang tua sebagai tempat penitipan anak. Antara pendidikan anak di sekolah dan di lingkungan rumah haruslah seimbang. Orang tua dan guru juga memiliki korelasi yang cukup erat dalam perkembangan otak dan kepribadian anak. Sekolah disebut sebagai lembaga pendidikan, di mana anak dididik untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Sedang orang tua sebagai pendidik di lingkungan keluarga sudah sepantasnya mengawasi pembelajaran anak di rumah.
Dalam sekolah sebagai lembaga pendidikan dikenal adanya psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak.
Anak SD memiliki ketertarikan tersendiri dalam dunianya.  Ketertarikan tersebut tidak sepenuhnya dapat dieksplor dengan maksimal. Banyak di antaranya yang masih canggung, takut, dan lain sebagainya.  Padahal, ketertarikan tersebut dapat dilatih secara perlahan dengan teknik yang dapat dengan mudah diterima anak. Selain itu, dalam ilmu psikologi terdapat pendekatan-pendekatan, yaitu pendekatan kognitif, pendekatan perilaku, pendekatan psikoanalisa, pendekatan fenomenologi.
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang. Jadi, individu di sini memperoleh apa yang didapatkan, menyerapnya sesuai persepsi mereka, menilai dan membandingkan stimulus yang diterimanya, kemudian menanggapinya dengan melakukan reaksi atas stimulus tersebut. Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya. Jadi, sesuatu yang terjadi melalui pengalaman seserorang akan berefek pada cara pandang seseorang.
Kajian psikologi pendididkan telah melahirkan prinsip-prinsip pembelajaran. Menurut Nasution (Daeng Sudirwo, 2002) ada 12 prinsip dalam belajar, diantaranya :
1.       Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan 
2.       Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan sengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3.       Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4.       Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5.       Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya juga hasil sambilan.
6.       Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
7.       Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, social, etis dan sebagainya. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
8.       Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-banar dipahami. Belajar bukan hanya sekedar mengahafal fakta lepas secara verbalistis.
9.       Di samping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
10.    Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu member sukses yang menyenangkan.
11.    Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
12.    Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
Psikologi pendidikan sangat erat kaitannya dengan komunikasi pendidikan.  Komunikasi pendidikan formal di sekolah berlangsung melalui proses instruksional yang bersifat dominan dalam dunia pendidikan. Komunikasi pendidikan bukan hanya antara guru dan siswa di dalam kelas, teteapi juga komunikasi dalam sector administrasi atau manajemen pendidikan, sector bimbingan dan penyuluhan, serta melibatkan berbagai unsure seperti informasi pendidikan dan tujuan pendidikan.
Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa hampir tidak mungkin sebuah proses pendidikan formal tanpa adanya komunikasi dan penyerapan informasi menurut tata aturan yang ditetapkan. Tujuan pendidikan juga akan terlaksana dengan baik jika proses komunikasi berjalan dengan maksimal. Sistem komunikasi yang dapat dilakukan yaitu dengan komuniksi dua arah, yakni bukan hanya pendidik yang menjelaskan semua materi pelajaran namun siswa juga harus diajarkan metode diskusi dengan tanya jawab. Hal ini akan menumbuhkan penalaran siswa terhadap materi pelajaran. Dengan begitu, selama metode diskusi ini terjadi komunikasi interpersonal dan komunikasi intrapersonal.
Komunikasi interpersonal dan komunikasi intrapersonal berlangsung melalui proses. Proses yang pertama yaitu persepsi, adalah kesan mengenai materi pelajaran maupun kesan terhadap guru yang menyampaikannya. Kesan ini pada setiap pelajar akan berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan, dan kebutuhan. Untuk proses ini, peranan alat indera sangat penting karena alat inderalah yang menangkap adanya kesan tersebut. Siswa akan memiliki kesan mengenai suka tidak sukanya, tertarik tidaknya dengan guru maupun materi pelajaran sesuai apa yang ditangkap indera dari masing-masing individu. Kemudian apersepsi, adalah tanggapan terhadap kesan yang diterima alat, biasanya kesan dibandingkan dengan kesan-kesan sebelumnya atau dengan pengalaman sebelumnya. Ideasi, adalah mengadakan konsepsi terhadap kesan yang diterimanya. Setelah kesan diterima dan disimpulkan/ditanggapi maka mengadakan seleksi dari sekian banyak pengetahuan dan pengalamannya yang pernah diperolehnya, mengadakan penataan mana yang relevan dengan kebutuhan dan keinginannya. Transmisi, apabila kesan yang diterimanya masih meragukan maka pelajar akan mempertanyakan pada pengajarnya. Dalam suatu diskusi apabila hasil konsepsinya sudah mantap maka ia juga akan mantap mengungkapkan pada teman diskusinya.
Konklusinya, mendekati proses akhir belajar maka pelajar menyimpulkan keseluruhan materi pelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan dan juga daya tangkapnya. Memori, proses akhir dari kegiatan belajar adalah menyimpannya dalam ingatan/memori (storage in memory). Hal ini selain tergantung pada daya ingatannya juga tergantung dalam penyimakan materinya. Kalau dalam menyimak materi palejaran sering tidak sadar (unconcius), sambil melamun, maka hanya masuk pada short term memory (memori jangka pendek) dan masuk ke bawah alam sadar. Sedangkan kalau menyimak materi pelajaran secara sungguh-sungguh dengan penuh konsentrasi dengan sadar maka selain masuk pada short term memory juga akan masuk dalam long term memory (memori jangka panjang).
Komunikasi pendidikan untuk anak Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan penyampaian materi pelajaran secara komunikatif, kreatif, dan  penuh inspiratif agar siswa dapat memahami dengan mudah. Komunikasi yang tersalurkan secara efektif akan menciptakan mind set siswa. Pada dasarnya, komunikasi pendidikan mempunyai tujuan yang jelas, yakni menciptakan daya pemikiran siswa agar berkualitas. Mengenai positif atau negatifnya mind set siswa ini ditentukan oleh keberhasilan maupun kegagalan komunikasi pendidikan.
Komunikasi pendidikan yang tepat dalam situasi pendidikan formal akan menumbuhkan motivasi belajar siswa. Selain dari dalam kemampuan individu untuk memotivasi dirinya sendiri atau motivasi intrinsik, motivasi belajar juga barasal dari lingkungan luar atau motivasi ekstrinsik. Dlam hal ini yaitu lingkungan pendidikan formal.
Sebagai komunikator sekaligus motivator, seorang pendidik harus mengetahui apa yang dibutuhkan siswa mengenai materi pelajaran di sekolah.  Cara komunikasi yang digunakan untuk memotivasi siswa pun harus tepat. Siswa memerlukan kebutuhan rasa aman. Sebagai contoh adalah seorang siswa yang merasa terancam atau dikucilkan baik oleh siswa lain mapun gurunya, maka ia tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Ada kebutuhan yang disebut harga diri, yaitu kebutuhan untuk merasa dipentingkan dan dihargai. Seseorang siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya, maka dia akan percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu/bisa, merasa berguna dalam didupnya. Kebutuhan yang paling utama atau tertinggi yaitu jika seluruh kebutuhan secara individu terpenuhi maka akan merasa bebas untuk menampilkan seluruh potensinya secara penuh. Dasarnya untuk mengaktualisasikan sendiri meliputi kebutuhan menjadi tahu, mengerti untuk memuaskan aspek-aspek kognitif yang paling mendasar.
Apabila seorang guru suka mengkritik, mencela, atau bahkan merendahkan kemampuan siswa, maka siswa akan cenderung menilai diri mereka sebagai seorang yang tidak mampu berprestasi dalam belajar. Hal ini berlaku terutama bagi anak-anak SD yang masih sangat muda. Akibatnya minat belajar menjadi turun. Sebaliknya jika guru memberikan penghargaan, bersikap mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa-siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar. Dorongan intelektual adalah keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan termasuk kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi.
Dorongan intelektual siswa sangat memungkinkan siswa memanfaatkan berbagai koleksi dari perpustakaan. Mereka mebutuhkan sumber informasi terutama buku pelajaran unruk mencapai apa yang diinginkannya, yaitu prestasi yang bagus. Siswa yang merasa termotivasi belajarnya, akan merasa haus akan dunia ilmu pengetahuan. Mereka akan mencari informasi mengenai apa yang mereka butuhkan. Di sinilah peran perpustakaan sekolah, yakni menyalurkan rasa ingin tahu ilmu dan memajukan pendidikan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal.
Perpustakaan sekolah melengkapi siswa dengan kemampuan belajar seumur hidup dan mengembangkan imajinasi mereka yang nantinya memampukan mereka untuk hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab ( Hanna Latuputty ).  Perpustakaan sekolah sering dikaitkan dengan keberhasilan program pendidikan. Masyarakat akan memandang bahwa  lembaga pendidikan yang bermutu adalah lembaga yang memiliki perpustakaan sekolah yang baik, lengkap, dan mutakhir. Sebaliknya, lembaga pendidikan yang tidak memiliki perpustakaan sendiri akan dipandang sebagai suatu lembaga pendidikan yang tidak bermutu. Maka, perpustakaan sekolah dilengkapi dengan koleksi-koleksi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesatnya.
Salah satu cara pemanfaatan perpustakaan sekolah yaitu melalui kerjasama antara guru dan pustakawan. Kerjasama antara pustakawan dan guru akan sangat menunjang proses pembelajaran. Seperti misalnya, guru mengajak siswa untuk belajar maupun berdiskusi bersama di perpustakaan, mengkaji isi buku sesuai tingkat kemampuan siswa. Selain itu, guru dapat menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas, seperti meringkas buku kemudian menceritakan isi buku tersebut di depan kelas. Pada intinya, guru melakukan berbagai cara belajar di perpustakaan semenarik mungkin agar siswa merasa termotivasi untuk selalu memanfaatkan perpustakaan sekolah.
Dorongan atau motivasi siswa untuk datang ke perpustakaan sekolah bisa karena kebutuhannya yang memang haus ilmu pengetahuan, ataupun karena tuntutan tugas yang diberikan oleh guru. Sebisa mungkin seorang pendidik memperkenalkan perpustakaan sekolah bukan hanya sebagai tempat menyimpan buku, tapi juga sebagai tempat yang menyenangkan untuk menimba ilmu, sesuai dengan fungsi rekreatif perpustakaan.  
Motivasi eksternal, siswa yang belum tergugah untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah akan merasa tertarik ketika melihat banyak siswa berbondong-bondong berkunjung ke perpustakaan sekolah. Mereka akan penasaran, mengapa banyak siswa yang datang ke perpustakaan. Mereka inilah target perpustakaan untuk dijadikan customer perpustakaan, bukan hanya konsumer. Untuk menarik perhatian siswa, perpustakaan perlu dirancnag sebagus dan senyaman mungkin. Misalnya, memasang papan display yang berisi buku-buku bacaan ringan baru yang sesuai dengan umur mereka.



Daftar Pustaka
Myazinda. 2010. Komunikasi dan Pendidikan. http://kampuskomunikasi.blogspot.com/2008/07/komunikasi-dan-pendidikan.html [ 8 Oktober 2010 ]
M. Yusup, Pawit. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Nadhirin. 2010. Motivasi dalan Belajar. http://nadhirin.blogspot.com/2010/01/dalam-dunia-pendidikan-terutama-dalam_17.html [ 10 Oktober 2010 ]
Nadhirin. 2010. Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan. http://nadhirin.blogspot.com/2010/06/kontribusi-psikologi-terhadap.html [ 10 Oktober 2010 ]
Wiranto. 2008. Perpustakaan dalam Dinamika Pendidikan dan Kemasyarakatan. Semarang : Penerbit Universitas Katolik Soegijapranata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar